Belajar dari Start up Sukses : Go Jek

logo gojekSiapa di antara kita yang ga kenal Go Jek? Ya, Go Jek sangat fenomenal dan pergerakannya saat ini cukup masif hingga merambah ke kota-kota besar di Indonesia.

Go Jek berdiri tahun 2011 lalu yang digawangi oleh dua anak muda yaitu Michaelangelo Maron dan Nadiem Makariem yang melihat peluang di peliknya permasalahan transportasi di Jakarta. Selain itu, mereka juga ingin mengangkat para ojek pengkolan ke kehidupan yang lebih baik. Dari hasil dari ngobrol-ngobrol mereka dengan abang ojek pengkolan, ditemukan data bahwa dalam kerja satu hari penuh, 70% waktu tukang ojek pengkolan dihabiskan dengan menunggu penumpang. Disini Nadiem melihat sebuah peluang dan kemudian dibentuklah Go Jek sebagai social entrepreneurship dengan memberikan sistem bagi hasil yang baik bagi para mitra pengendaranya, yaitu 80% bagi pengendara 20% bagi Go Jek.

Di awal operasinya Go Jek menggunakan sistem SMS biasa kepada para penggunanya. Dan dengan taglinenya “an ojek for every need” di awal beroperasinya, Go Jek tidak hanya mengangkut orang, tapi juga mengantarkan dokumen.  Fitur yang ada sekarang yaitu Go Ride & Go Send adalah fitur yang telah ada sejak awal Go Jek beroperasi. Sedangkan fitur lainnya berkembang seiring dengan inovasi dan pengembangan bisnis.

Adapun mengenai kesuksesan Go Jek, ada hal-hal yang dalam ilmu bisnis merupakan salah satu kunci keberhasilan sebuah ide bisnis. Yang utama adalah bertemunya permasalahan konsumen dengan layanan atau produk yang dibutuhkan.

Walaupun awal ide adalah untuk membantu para ojek pengkolan, tapi Go Jek jelas melihat adanya permasalahan lain yang tidak kalah penting. Yaitu masih kurang layaknya sistem dan moda transportasi di Jakarta, kemacetan yang parah hingga menghabiskan waktu di jalan dan kebutuhan mobilisasi yang tidak bisa dihentikan. Sehingga bisa dikatakan, Go Jek berada pada timing yang tepat, di kala tidak ada obat penawar yang ampuh untuk masalah-masalah tersebut, Go Jek hadir bak hujan di musim kemarau.

Kunci lainnya adalah, memulai tanpa harus menunggu sempurna. Sering kali di kala kita atau calon pengusaha menemukan sebuah ide yang berlandaskan pada sebuah permasalahan yang ada di masyarakat, ide tersebut tidak cepat-cepat direalisasikan. Start up banyak terjebak dalam mindset lama, seperti permodalan, kantor, tim yang solid dan lain sebagainya. Atau terlalu lama berkutat dengan riset dan riset.

nadiem makarim - gojek

Nadiem memiliki ide Go Jek di tahun 2010 dan sudah mulai beroperasi di tahun 2011. Hanya butuh waktu setahun setelah sebelumnya dia menimba cukup ilmu setelah dengan bekerja di Zalora & Kartuku. Adapun Go Jek mulai menginstal pelayanannya di aplikasi pada tahun 2015 dan mulai dikenal secara masif di masyarakat.

Nadiem memulai bisnis ini dengan jumlah tim hanya 10 orang dan 20 orang pengemudi. Tidak ada yang instant, dan inilah yang dipahami oleh Nadiem selaku pelaku bisnis. Sebelum Go Jek masuk dalam aplikasi Nadiem sulit sekali merekrut para tukang ojek pangkalan karena tidak adanya trust karena belum dikenalnya brand Go Jek. Tapi Nadiem terus melakukan pendekatan-pendekatan dengan turun langsung ke lapangan, duduk bersama tukang ojek membelikan mereka rokok dan kopi.

Bisnis yang memberi solusi tentunya akan diterima dengan baik oleh msyarakat atau target marketnya, dan tentu akan terus berkembang seiring dengan waktu. Saat ini Go Jek sudah memiliki 10.000 lebih mitra pengendara dan terus perlahan tapi pasti melakukan ekspansi ke kota-kota besar di Indonesia. Dan yang terakhir Go Jek juga melakukan kemitraan dengan Blue Bird sebagai perusahaan taksi terbesar dan tertua di Indonesia.

Saat ini Go Jek juga sudah menjadi salah satu unicorn start up Indonesia dan mendapat injeksi dana investasi dengan nilai miliaran dari Singapura. Walaupun saat ini catatan keuangan Go Jek masih di warna merah alias belum mendapatkan keuntungan, karena Go Jek  masih terus fokus kepada pengembangan aplikasi dan promosi seperti promo tarif, iklan, dan lain sebagainya. Namun secara brand, Go Jek sudah berada dalam top of mind masyarakat dan nilai perusahaan juga sangat tinggi.

gojek narik

Menghadapi tingkat persaingan yang mulai ketat, Go Jek pun melakukan beberapa terobosan dengan penambahan layanan. Dengan fitur layanan asisten rumah tangga yang melakukan bersih-bersih, atau melakukan pengiriman barang tanpa harus keluar rumah, hingga ke bisnis kuliner dengan tidak perlu memiliki outlet atau restoran, membuat konsumen semakin solid karena merasa terpenuhi kebutuhannya di Go Jek.

Ketatnya persaingan antara provider transportasi berbasis teknologi ini, tentunya memberikan privilege kepada masyarakat untuk memilih moda transportasi mana atau berapa harga yang ingin dibayar, dan pada akhirnya masyarakat juga yang memilih provider mana yang paling pas di hati, dan tidak selalu pas di kantong.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*